Oleh: Dr. Mohamad Hasan, S.H., M.H.
Pendiri Relawan Indonesia Pembela Alam (RIMBA)

Ketika api membakar hutan, yang diuji bukan hanya kemampuan memadamkan api, tetapi juga kepedulian dan kesadaran ekologis rakyat Jawa Barat. Ada sesuatu yang terasa janggal dari cara kita memperlakukan hutan. Ketika hutan masih hijau, kita datang menikmatinya. Gunung menjadi tempat pendakian, swafoto, wisata alam, bahkan konten media sosial. Ketika pemandangan indah, semua orang ingin berada di sana. Akan tetapi, ketika hutan terbakar, perhatian mendadak mengecil.

Api di hutan sering kali kalah menarik dibanding api dalam politik.

Padahal, ketika hutan terbakar, yang hilang bukan sekadar pohon dan rerumputan. Ada habitat satwa, keanekaragaman hayati, cadangan air, kesuburan tanah, dan keseimbangan ekosistem yang ikut dipertaruhkan. Mengapa banyak yang diam?

baca artikel selengkapnya di:
https://kodiklat-tniad.mil.id/berita/read/kahuruan-gunung-gede-pangrango

dan
https://koran.pikiran-rakyat.com/opini/pr-30310387470/kahuruan-gunung-gede-pangrango

(Penerangan Kodiklatad)